Jumat, 27 Maret 2009

Tertawalah sebelum Tertawa itu Dilarang

6 komentar

Kalau-kalau merasa pernah mendengar istilah ini entah dimana, berarti anda normal. Hahaha.. Maaf.. Iya bener, istilah ini memang sering banget kita denger, eh lebih tepatnya baca ketika kita menonton film-filmnya Warkop DKI.Istilah ini selalu ada di part akhir film Warkop DKI. Tapi tapi tapi, artikel ini bukan untuk membahas filmnya warkop DKI lho.. Saya cuma mengutipnya aja kok.

Apa sich yang ada di benaknya temen-temen ketika baca istilah itu?? Pasti aneh ya.. Nggak mungkin gitu kan kalau kita akan dilarang untuk tertawa. Tapi emang bener kok.. Kita harus hati-hati dalam tertawa. Mungkin ada yang masih inget tentang dibrendelnya program acara Empat Mata. Itu sich bukan awal ya.. tapi mungkin itu menurut saya klimaksnya. Gimana kita harus berhati-hati dalam tertawa. Banyak banget acara komedi yang ada di setiap stasiun televisi. Mungkin di tiap-tiapnya punya lebih dari 3 mata acara yang bertemakan komedi. Mungkin lebih dari 99 mata acara komedi di semua stasiun televisi nasional yang ditayangkan setiap minggunya. Variantnya pun berbeda-beda, dari mulai talkshow, sitkom, reality show, dan banyak lagi yang lainnya. Dan ada kesamaan lagi diantara puluhan acara itu, semua acara komedi selalu berhubungan dengan pelecehan. Bentuk pelecehan yang paling nyata yaitu pelecehan fisik. Sudah menjadi rahasia publik kalau hampir semua pelawak-pelawak di indonesia itu memiliki kekurangan. Bukan berarti kita yang bukan pelawak tidak memiliki kekurangan lho.. Tapi mungkin yang ada sekarang, kekurangan-kekurangan itu terlalu diekspos dan dijadikan bahan ejekan satu sama lain. Dan ironisnya, kita yang melihat ini malah tertawa terbahak-bahak atas penghinaan tersebut (bukan berarti saya nggak lho,,hehehe).
Bukan hanya dari segi fisik yang dijadikan lawakan oleh orang-orang, namun banyak lagi hal lin, misalnya sex dan lain sebagainya. Pelecehan sex yang saya maksud di sini adalah seperti laki-laki tulen yang memerankan sosok perempuan. Banyak juga kan pelawak yang memakai cara ini, seperti acara Ngelenong Nyokkk,, semua laki-laki disana pasti pernah berperan sebagai perempuan. Di sisi lain, ini juga merupakan penghinaan bagi kaum perempuan.

Dengan adanya cara-cara melawak yang cukup membuat miris ini, banyak orang yang keberatan dan melaporkan keberatannya kepada pihak yang berwenang, dalam hal ini adalah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Dan KPI yang memang tugasnya tergolong represif, artinya mereka melakukan tindakan ketika ada aduan yang datang kepada mereka. Dan kalau dinilai memang kurang memenuhi persyaratan mereka, acara tersebut awalnya hanya diberi peringatan, ketika masih melakukan tindakan yang sama, mereka akan mengambil tindakan tegas, yaitu membrendelnya.

Saya masih ingat, ketika di tiap-tiap acara komedi terutama yang disiarkan Live, mereka sering berkata "ati-ati, nanti ditegur KPI lho.." Waktu itu saya masih nggak menanggapi apapun, karena saya belum mengerti juga, tapi sekarang yang mungkin bisa saya garis bawahi adalah kalau kita harus hati-hati dalam tertawa. Salah-salah bisa kena tegur KPI.. hehehe..

Oleh karena itu, segeralah tertawa, sebelum tertawa itu dilarang.. :D (met)

Selasa, 17 Maret 2009

Tingkatan Komunikasi Manusia

3 komentar
Berada pada tingkatan manakah Anda?



Ketika beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel tentang kecepatan transfer data melalui jaringan komputer dan melihat bahwa kecepatan upload tidak pernah melewati bahkan menyamai kecepatan download, saya berkesimpulan bahwa ada analogi antara komunikasi manusia dan komunikasi data elektronis. Apakah ada manusia yang bisa menulis secepat membaca? Ketika kita menulis, dibutuhkan proses 'transfer data' per huruf, sedangkan ketika kita membaca, proses 'transfer data' yang terjadi bisa dilakukan per suku kata, bahkan semakin tinggi tingkat kemampuan membaca, semakin besar satuan aksara yang bisa diproses. Belum lagi proses untuk memikirkan rangkaian aksara yang akan ditulis, seperti yang saya alami saat menulis artikel ini!

Hal tersebut membawa saya kepada suatu konsep tentang tingkatan komunikasi pada manusia. Berdasarkan medianya tingkatan komunikasi manusia terbagi menjadi audio, visual, dan audio visual. Berdasarkan arahnya tingkatan komunikasi manusia terbagi menjadi downstream dan upstream, sesuai dengan analogi di atas.

Mari kita kembali ke masa-masa awal pembentukan diri kita masing-masing. Ketika masih di dalam rahim ternyata kita sudah mempunyai kemampuan untuk mendengar, suatu kemampuan komunikasi yang berada pada tingkatan audio-downstream. Kemudian kita dilatih untuk dapat berbicara, kemampuan komunikasi tingkat audio-upstream. Masuk usia SD kita mulai diajar membaca, kemampuan komunikasi tingkat visual-downstream. Tidak lama kemudian kita dikenalkan dengan cara-cara menulis dan menggambar, kemampuan komunikasi tingkat visual-upstream. Sampai di sini sebenarnya sudah cukup bagi manusia untuk dapat berkomunikasi dengan baik, tetapi perkembangan kebutuhan baik internal maupun eksternal menuntut manusia mengembangkan setiap kemampuan berkomunikasi yang telah dimilikinya.

Pada tingkat kebutuhan tertentu manusia akhirnya mengembangkan suatu tingkatan kemampuan komunikasi baru yaitu audio-visual baik downstream maupun mainstream. Pada tingkatan audio-visual-downstream ada kemampuan memirsa yang merupakan gabungan antara daya tangkap audio dan visual. Kemudian pada tingkatan audio-visual-upstream, kemampuan yang muncul menjadi semakin kompleks. Penyutradaraan dan koreografi adalah beberapa contoh bentuk komunikasi pada tingkatan ini. Tidak semua manusia memiliki kemampuan ini. Itulah sebabnya muncul berbagai macam penghargaan untuk pekerja-pekerja industri hiburan, salah satu bidang pekerjaan yang menuntut bentuk komunikasi pada tingkatan ini. Adakah penghargaan untuk pendengar terbaik atau pembaca terbaik? Penghargaan untuk penulis terbaik dan pembicara terbaik walaupun ada tapi sangat sedikit dan gaungnya masih kalah dibandingkan penghargaan untuk tingkatan komunikasi audio-visual.

Jadi, sudah terbayang ujung akhir sejarah, yaitu ketika seluruh manusia telah sampai pada tingkatan komunikasi yang tertinggi: audio-visual-upstream. Ujung awalnya sudah jelas yaitu ketika manusia mulai dapat membaca dan menulis (patokan masa sejarah, lihat kembali buku-buku mata pelajaran sejarah Anda).

Berada pada tingkatan manakah Anda? (rumahmailoa.com)

Rabu, 11 Maret 2009

Welcome to the Jungle...

2 komentar

Waaa... judulnya kok serem ia.. emang yang baca monyet apa..?? Nggak kok.. itu cuma sekedar judul kok.. Intinya selamat datang di blog ini.. Jujur aja ini blog keduaku.. Blog ini sengaja dibuat karena sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan nilai yang bagus.. hehehe.. Tapi bukan berarti blog ini dibuat tanpa kesungguhan,, aku bener2 sungguh2 kok.. Ya.. kan biar nilainya bagus.

Kenapa aku pilih nama Sebuah Penggalan Permainan Kata ... karena blog ini isinya gag lebih dari permainan kata-kata yang disambung sedemikian rupa sehingga enak buat dibaca.. Yach.. kalau ada sih yang mau baca. Namun mungkin dalam beberapa penulisan, bukan aku sendiri yang menulis, atau aku hanya mengutip dari tulisan orang, itu karena masih barunya aku untuk menulis dan masih ada kata-kata yang belum bisa aku rangkai.

Semoga apa yang ada di blog ini menjadi berguna buat orang lain. Dan dimohon dengan sangat untuk sesekali meninggalkan comment.. Entah itu saran, masukan, kritik yang membangun atau apa saja, makanan juga boleh. Hehehe..

Makasih buat yang mau baca..

 

_ Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez