Senin, 15 Juni 2009

Antara Sinetron dan Reality Show

3 komentar
Di televisi sekarang ini, dipenuhi dengan sinetron dan reality show, apalagi di jam-jam prime time. Beuh.. Hampir semua stasiun TV nayangin acara serupa. Gag bisa dipungkiri sich, yang namanya TV pasti memprogram acaranya sedemikian rupa agar mereka dapat pemasukan. Mereka memasang sinetron itu di jam segitu juga ada alasannya. Jam prime time adalah jam jam dimana seluruh anggota keluarga itu istirahat dan bisa menonton TV. Dan khusus untuk simetron, mungkin sementasinya adalah ibu-ibu yang setelah seharian bergulat dengan pekerjaan ibu rumah tangga, ingin beristirahat sejenak dengan menonton TV. Dan sinetron lah tujuannya.

Kalo dari pihak reality show, segmentasinya jelas para remaja. Jam tayangnya juga disediakan sesuai waktu luang remaja. Yang banyak ada sekarang adalah reality show yang mengambil tema tentang "cinta". Entah itu tentang pencarian cinta yang hilang, pengen memperbaiki hubungan cinta yang dulu, dsb. Cinta disini yang saya maksud bukan hanya cinta antara laki-laki dan perempuan, tetapi jauh lebih luas dari itu..

Secara kasat mata, Reality Show dan Sinetron ini jelas berbeda. Yang satu tentang keadaan yang sebenarnya dari sebuah situasi, dan yang satu lagi adalah tentang keadaan yang mungkin pernah terjadi dalam sebuah situasi, namun itu dihubung-hubungkan, dan semua orang tahu kalau itu semua hanya fiktif belaka.

Namun, sekarang-sekarang ini, kelihatan banget, kesannya Reality Show itu lebay banget.. Semua hal dibuat secara berlebihan. Dan bahkan sinetron pun lewat. Hehehe.. Reality Show dibuat sedemikian rupa yang bisa bikin perasaan yang nonton itu ikutan meluap-luap. Tapi makin kesini, kok antar Reality Show yang satu dengan yang lainnya itu ceritanya gag beda jauh.. Itu-itu aja..

Mengutip kata Pak Novin,"reality show itu dampaknya lebih gedhe lho". Setelah dicerna lebih dalam dan lebih dalam :D ternyata bener. Orang kalau ngeliat Sinetron pasti mikirnya, "ahh,, ni sinetron ceritanya bo'ong, fiktif nih, gag bener2 ada orang yang kaya' gini." Tapi kalau ngeliat Reality Show, belum tentuuuu... Ya, kalo orangnya emang uda tahu, kalau orang yang nggak tau dan nggak mau tahu tentang bohong tidaknya itu, pasti akan dibuat percaya hal-hal yang ada di sebuah Reality Show. Kalau udah kaya' gitu, kan gag bisa disaring mana yang bisa dan gag bisa ditiru buat kehidupan kedepannya. ckckckck..

Kalau dampaknya acara smack down kan bisa langsung kelihatan ya.. kalo reality show dan sinetron ini gimana ya.. ?? hihihi.. gag nyambung.. :D

Kamis, 04 Juni 2009

Curhat : The Pursuit of Happiness

3 komentar

Secara nggak sengaja, saya disuguhi kakak film ini. Yupz, The Pursuit of Happyness. Kakak saya, yang memang hobi banget sama yang namanya film, langsung aja nerocos, nyeritain gimana cerita film itu. Sedikit penasaran dalam hati saya. Langsung saja, saya bungkam mulut kakak (wiii... sadisss.. Agak lebay sih.. Aslinya ya gag segitunya,, kakak cuma cerita.. maap ya mbak,, dikambing hitamkan.. hehheh..) dan saya setel film itu..

Dan setelah selesai melihatnya,, astaga!! Saya sedikit,, weits.. bukan sedikit, tapi banyak, tergugah hati saya.. Sangat bagus buat motivator. Dan boleh saya bilang film ini sangat cocok untuk ditonton semua kalangan dari yang udah tua, muda, yang laki, yang perempuan. Semuanya deh, boleh banget buat nonton..

Walaupun judulnya agak2 kurang bener, yang bener khan happiness.. Tapi pasti yang bikin film itu punya makna sendiri kenapa namanya dirubah kaya' gitu. Tapi yang saya tangkap, arti film itu ya sama The pursuit of happiness, mencari kebahagiaan.

Film ini menceritakan tentang
Crist Garden yang diperankan oleh Will Smith dalam mencari dan akhirnya mendapatkan "sedikit" kebahagiaan. Bagaimana ia berjuang hingga akhirnya ia menjadi milyuner.

Crist Garden, awalnya adalah seorang salesman sebuah alat kedokteran, namnya haduuh.. lupa... pokoknya alat itu semacam scanner kepadatan tulang gitu lho.. Alat itu harganya memang mahal. Dan dia akan mendapatkan banyak keuntungan kalau berhasil menjualnya. Awalnya dia membeli bahasa jawanya
"kulakan" alat itu sampai puluhan. Ia menyangka saat itu akan sukses dan kaya raya dengan menjual alat itu. Tiap hari dia menjelajahi tiap rumah sakit. Bgaimanapun juga tiap bulan ia harus menjual beberapa buah untuk menghidupi keluarganya (anak dan istrinya).

Cobaan datang, ketika ia menemui kenyataan bahwa alat itu oleh para dokter dianggap sebagai kemewahan yang tidak perlu. Karena memang harga alat tersebut yang sangat mahal dan dianggap belum memerlukanalat itu oleh para dokter. Cobaan tak berhenti sampai di situ. Karena Crist parkir mobil di tempat yang bukan seharusnya, Crist pun harus ditilang dan karena tidak bisa membayar tilangannya, ia harus menggantinya dengan bermalam di penjara selama satu hari. Tak hanya itu, pemilik rumah yang ditinggali Crist dan keluarga terus-terusan menagih uang sewa rumah yang selama tiga bulan belum dibayat. Itu membuat istrinya tidak tahan dan meninggalkan rumah.
Crist terus-terusan terkena musibah. Sampai akhirnya ia mencoba untuk melamar kerja sebagai pialang saham. Ia beranggapan bahwa jika ia menjadi pialang saham, ia akan kaya, dan hidupnya akan tenang. Ada sedikit harapan ia untuk bekerja di situ. Namun, ia juga pesimis bisa diterima, karena ia hanya lulusan SMA. Namun, Crist punya satu keahlian yang membuat tercengang. Yaitu ia bisa menyelesaikan kotak puzzle (itu lho, semacam menyusun kotak, agar warna-warnanya bisa sama) dalam waktu yang singkat. Hal itu yang membuat orang-orang dari pialang sahan sedikit memberi kepercayaan padanya.


Akhirnya ia pun sampai pada tahap magang di pialang saham itu. Ia beserta peserta seleksi lainnya harus kerja magang selama 6 bulan, dan tanpa digaji. Jadinya sumber pendapatannya masih bergantung pada hasil penjualan alat tadi. Tiap hari ia harus bekerja di kantor, menawarkan alat ke rumah sakit dan merawat anaknya.

Situasi menjadi bertambah berat ketika Chris dan putranya harus kehilangan tempat tinggal, karena tidak bisa membayar tagihan apartemen. Chris dan anaknya sampai harus tidur di sebuah kamar mandi di stasiun kereta dan tempat tinggal sementara di sebuah gereja, bersama puluhan tunawisma. Sementara, kerja magangnya juga tidak begitu berhasil. Begitu terus hingga akhirnya… Chris mendapatkan ’sedikit' kebahagiaannya…


Akhirnya:


Chris Gardner kini adalah seorang milyuner. Namun sebelum film/buku “Pursuit of Happyness” keluar, mungkin hanya sedikit yang tahu, bahwa milyuner tersebut dulunya pernah tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Setiap hari harus mengantri di gereja tempat tinggal sementara. Setiap hari harus membawa benda yang beratnya 40 pon ke sana kemari… Bahkan untuk membeli sepatu baru, menggantikan sepatunya yang hilang ketika tertabrak mobil, milyuner tersebut tidak mampu.

Sungguh perjuangan yang memotivasi kita semua. Saya tidak mengatakan bahwa untuk mendapatkan ‘happiness’ haruslah kaya raya/menjadi milyuner. Namun setidaknya kita semua memiiliki tujuan hidup, cita-cita, yang sebaiknya kita perjuangkan untuk mendapatkannya. Dan perjuangan itu tentunya tidak mudah…

Film ini berdurasi sekitar 2 jam. Bisa dikatakan, isi cerita film ini 90% adalah kisah-kisah perjuangan yang berat dan tidak sedikitnya berakhir menyedihkan. Hanya 5-7 menit yang berisi "kebahagiaan". Hmmmm... jadi tidak disarankan untuk orang-orang yang mudah mengeluarkan air mata... Tapi kalau penasaran boleh kok.. hehehe.. :D

 

_ Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet | All Image Presented by Tadpole's Notez