
Secara nggak sengaja, saya disuguhi kakak film ini. Yupz, The Pursuit of Happyness. Kakak saya, yang memang hobi banget sama yang namanya film, langsung aja nerocos, nyeritain gimana cerita film itu. Sedikit penasaran dalam hati saya. Langsung saja, saya bungkam mulut kakak (wiii... sadisss.. Agak lebay sih.. Aslinya ya gag segitunya,, kakak cuma cerita.. maap ya mbak,, dikambing hitamkan.. hehheh..) dan saya setel film itu..
Dan setelah selesai melihatnya,, astaga!! Saya sedikit,, weits.. bukan sedikit, tapi banyak, tergugah hati saya.. Sangat bagus buat motivator. Dan boleh saya bilang film ini sangat cocok untuk ditonton semua kalangan dari yang udah tua, muda, yang laki, yang perempuan. Semuanya deh, boleh banget buat nonton..
Walaupun judulnya agak2 kurang bener, yang bener khan happiness.. Tapi pasti yang bikin film itu punya makna sendiri kenapa namanya dirubah kaya' gitu. Tapi yang saya tangkap, arti film itu ya sama The pursuit of happiness, mencari kebahagiaan.
Film ini menceritakan tentang Crist Garden yang diperankan oleh Will Smith dalam mencari dan akhirnya mendapatkan "sedikit" kebahagiaan. Bagaimana ia berjuang hingga akhirnya ia menjadi milyuner.
Crist Garden, awalnya adalah seorang salesman sebuah alat kedokteran, namnya haduuh.. lupa... pokoknya alat itu semacam scanner kepadatan tulang gitu lho.. Alat itu harganya memang mahal. Dan dia akan mendapatkan banyak keuntungan kalau berhasil menjualnya. Awalnya dia membeli bahasa jawanya "kulakan" alat itu sampai puluhan. Ia menyangka saat itu akan sukses dan kaya raya dengan menjual alat itu. Tiap hari dia menjelajahi tiap rumah sakit. Bgaimanapun juga tiap bulan ia harus menjual beberapa buah untuk menghidupi keluarganya (anak dan istrinya).
Cobaan datang, ketika ia menemui kenyataan bahwa alat itu oleh para dokter dianggap sebagai kemewahan yang tidak perlu. Karena memang harga alat tersebut yang sangat mahal dan dianggap belum memerlukanalat itu oleh para dokter. Cobaan tak berhenti sampai di situ. Karena Crist parkir mobil di tempat yang bukan seharusnya, Crist pun harus ditilang dan karena tidak bisa membayar tilangannya, ia harus menggantinya dengan bermalam di penjara selama satu hari. Tak hanya itu, pemilik rumah yang ditinggali Crist dan keluarga terus-terusan menagih uang sewa rumah yang selama tiga bulan belum dibayat. Itu membuat istrinya tidak tahan dan meninggalkan rumah.
Akhirnya ia pun sampai pada tahap magang di pialang saham itu. Ia beserta peserta seleksi lainnya harus kerja magang selama 6 bulan, dan tanpa digaji. Jadinya sumber pendapatannya masih bergantung pada hasil penjualan alat tadi. Tiap hari ia harus bekerja di kantor, menawarkan alat ke rumah sakit dan merawat anaknya.
Situasi menjadi bertambah berat ketika Chris dan putranya harus kehilangan tempat tinggal, karena tidak bisa membayar tagihan apartemen. Chris dan anaknya sampai harus tidur di sebuah kamar mandi di stasiun kereta dan tempat tinggal sementara di sebuah gereja, bersama puluhan tunawisma. Sementara, kerja magangnya juga tidak begitu berhasil. Begitu terus hingga akhirnya… Chris mendapatkan ’sedikit' kebahagiaannya…
Akhirnya:
Chris Gardner kini adalah seorang milyuner. Namun sebelum film/buku “Pursuit of Happyness” keluar, mungkin hanya sedikit yang tahu, bahwa milyuner tersebut dulunya pernah tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Setiap hari harus mengantri di gereja tempat tinggal sementara. Setiap hari harus membawa benda yang beratnya 40 pon ke sana kemari… Bahkan untuk membeli sepatu baru, menggantikan sepatunya yang hilang ketika tertabrak mobil, milyuner tersebut tidak mampu.
Sungguh perjuangan yang memotivasi kita semua. Saya tidak mengatakan bahwa untuk mendapatkan ‘happiness’ haruslah kaya raya/menjadi milyuner. Namun setidaknya kita semua memiiliki tujuan hidup, cita-cita, yang sebaiknya kita perjuangkan untuk mendapatkannya. Dan perjuangan itu tentunya tidak mudah…
Film ini berdurasi sekitar 2 jam. Bisa dikatakan, isi cerita film ini 90% adalah kisah-kisah perjuangan yang berat dan tidak sedikitnya berakhir menyedihkan. Hanya 5-7 menit yang berisi "kebahagiaan". Hmmmm... jadi tidak disarankan untuk orang-orang yang mudah mengeluarkan air mata... Tapi kalau penasaran boleh kok.. hehehe.. :D

3 komentar on "Curhat : The Pursuit of Happiness"
aku belum pernah liat film ini, tapi aku sedikit tau c. Waktu itu aku nonton Oprah Winfrey dab film ini lagi d promosikan di acara itu. .
aku cuma liat cuplikannya aja dah keren, g tega waktu liat will smith dan anaknya harus tinggal di dalam tempat yg g layak. . .
Klo punya filmnya aku mw ngopi donk. . ?
aq minta pileme dunk med...
eh visit blog baruq,
akuanakingusan.blogspot.com iia..!!!!
Tepuk tangan buat apresiasi film ala Medtricka.. ~,~// ~,~// ~,~//
Posting Komentar