Inspirasi itu bisa datang dari mana saja…bahkan dari seorang anak kecil yang berlarian tanpa celana di keramaian pasar. Sang ibu mengejar sambil mengacungkan tangan memegang celana pendek dengan mulut tak henti memanggil nama si kecil. Tertangkap! Si kecil lalu terkikik dikitik-kitik ibunya.
“Duh, naak…belom pake celana kok sudah lari-lari…malu loh…” Ibu itu lalu menciumi anaknya penuh sayang, lalu kembali berjualan. Si anak masih menggelayut manja di sampingnya. Ibu itu, penjual sayuran di pinggir jalan. Beralaskan terpal dari karung dengan payung besar untuk bernaung. Berdua, dengan anaknya, sambil sesekali menjajakan dagangan, “Sayur, Bu? Sayur…?”…
Teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, seorang anak tetangga jatuh. Sang ibu datang dengan cepat menghampiri, berlari. Tapi langsung mencak-mencak, malah ditambahin “puk” di pantat sang anak… Duhh, bukan salah si batu yang disandung, bukan salah si kecil yang tersandung. Ibu, “puk” itu juga bikin sakit …
---
Pernah kebayang gak , apa yang akan kita lakukan seandainya tau umur kita tinggal 3-2-1 tahun? Atau bahkan mungkin ada dalam hitungan bulan, minggu, hari??? Ketika kita sakit parah, mungkin renungan tentang resolusi menjalani hidup tiba menjadi penguat hati untuk cepat sembuh. Ketika kerabat meninggal, menjenguk orang sakit, atau hanya dari melihat reality show “tolooong…tolooong”, hmm…. Hidup ini pelajaran yang dipelajari, dan kita belajar mempelajarinya…
Mensyukuri apa yang ada tak cukup teman. Nilai hidup lebih dari itu. Rasa syukur memberi kita tempat untuk menikmati hidup. Memberi rasa bahwa apa yang kita sudah jalani, itulah yang terbaik kita dapat. Tak perlu mendongak ataupun menunduk. Apapun itu, yang sanggup kau raih dan ada digenggamanmu. Disyukuri …. Tapi hidup tak hanya sendiri. Masih ada kawan dan lawan untuk berbagi. Lawan?? Berbagi? Hmm…
Lawan adalah musuh utamamu. Lawan yang yang tangguh, bikin keki dan bisa membuatmu kalah telak! Kalah terhadap harga diri, prestasi, bahkan tubuh, dirimu sendiri. Lalu hidupmu diusung rasa benci, dendam, dan iri hati. Merasa dirimu paling benar tapi tak benar. Merasa dirimu pintar tapi menjadi hal terbodoh yang pernah terlihat. Merasa dirimu penuh kasih sayang tapi wajahmu kecut buah dari kebencian. Merasa dirimu hebat tapi berbentuk kemunafikan. Merasa dirimu sehat tapi nyata parumu tergerogoti asap yang kau hirup, otakmu, hatimu, jantungmu, nyawamu…(fiuuuhh…).
Hmm…lantas apa yang kita lakukan? Ternyata hanya menggumam, nggrundel dan diam di tempat. Ah…pikirkan baik-baik teman, lawan apa yang hendak kita kalahkan? Dirinya? Dirimu? Nafsumu? Amarah? Angkara? Apakah ia berwujud sepertimu, atau bahkan berbentuk bongkahan batu besar yang pongah kau tanam di dalam bawah sadarmu . Apapaun itu, temukan dan berbagilah…. Berbagilah kebaikan dengannya.
Kebaikan apa yang telah kita lakukan? Kebaikan apa yang akan kita lakukan? Mungkinkah lawan menjadi kawan? Jika besok adalah ajalmu, berapa banyak lawan yang kau ajak berteman hari ini? Jika besok adalah ajalmu, lihatlah sekelilingmu. Santun ucapmu penuh kasih sayang, indah lakumu berbagi cinta. Apa yang ada dihadapanmu, yang teraih oleh genggamanmu adalah anugerah terbaik yang bisa kau bagi dengan yang lain. Besok adalah ajalmu. Nantikan ia dengan suka cita…
salam,
Tetap Semangat dan Teguhkan Hati! Sampai nanti sampai Mati!!
sumber: Letto&Plettonic on facebook
Jumat, 02 Oktober 2009
Sekedar opini : Setelah nurdin wafat, selanjutnya...???
Namun pertanyaan yang banyak mengusik masyarakat sekarang adalah apakah terorisme di Indonesia akan selesai ketika Nurdin M. TOp wafat..?? Saya rasa tidak. Ini sekedar opini dari saya. Yang mempunyai paham seperti Nurdin di Indonesia ini tidak hanya satu dua orang. Dan paham itu adalah paham garis keras. Orang-orang seperti mereka tidak akan berhenti hanya karena salah satu dari mereka telah meninggal. Malah, mati adalah tujuan mereka. Karena anggapan mereka, itu adalah jihad di jalan Allah. Dan mungkin, selama kurang lebih 9 tahun Nurdin melanglang buana di Indonesia, ia telah berhasil membentuk satu buah benteng yang kokoh. Bisa saja ia menurunkan segala pengetahuannya tentang apapun kepada orang-orang yang dianggapnya mampu. Dan ia telah menyiapkannya jauh-jauh hari, karena ia sadar, suatu hari ia pasti akan mati juga dengan cara apapun, tak harus dengan cara seperti ini. Mereka pasti mempersiapkan Nurdin-Nurdin selanjutnya sebelum ajal menjemput mereka.
Kenapa sich harus Indonesia?? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan banyak orang. Iya. Kenapa mereka harus menjadikan Indonesia sasaran mereka. Beberapa ahli mengatakan kalau terorisme itu salah kalau dialamatkan di Indonesia. Yang benar di negara-negara Timur Tengah sana. Namun, pemikiran Nurdin dan antek-anteknya tentu tak seperti itu. Mereka pasti mempunyai alasan yang kuat kenapa mereka memilih Indonesia sebagai sasaran mereka. Saya rasa ini bukan hanya sasaran yang asal-asalan. Dalam beberapa artikel waktu Amrozi dkk ditangkap, mereka mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu sekutunya Amerika, Australia dan negara-negara kafir lainnya. Untuk urusan ini, saya belum mengerti benar duduk permasalahannya.
Namun, yang sedikit mengusik hati saya, kenapa orang-orang itu dinamai teroris. Memang mereka sudah membuat kita dan dunia merasa selalu was-was karena teror yang mereka sebarkan. Mereka juga kadang membuat Muslim sendiri menjadi terpojok. Namun, mereka juga membela Islam dan yang menjadi sasaran mereka adalah orang-orang yang kafir. Dan kenapa, yang memang terlihat benar-benar meneror malah tidak dibilang sebagai Teroris. Seperti Israel, Amerika, dan antek-anteknya. Mereka telah membuat saudara-saudara kita, di Palestina, Iran dan Afganistan, banyak teraniaya. Mereka banyak membunuh saudara-saudara kita dengan alasan yang tidak jelas. Mengapa bukan mereka yang dibilang TERORIS???
Umat Muslim wajar jika marah. Dalam berbagai bentuk, wajar jika kemarahan mereka diluapkan. Yang mungkin salah, jika yang menjadi korban adalah orang yang tidak tahu apa-apa.
Tulisan saya ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti. Namun, sudah seharusnya umat Muslim bersatu melindungi negeri ini bahkan dunia ini dari tindak-tindak teror oleh siapapun itu. Apapun alasannya membunuh orang itu salah. Tindak terorisme tidak dapat dibenarkan. Umat Islam sudah seharusnya melindungi kehormatannya dengan jalan bersatu untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya. Yang salah di sini bukan orang sebagai umat Islam, tetapi keyakinan orang tentang pemahaman sesuatu. Semoga tulisan ini dapat berkenan di hati pembaca. (met)

Langganan:
Komentar (Atom)
